Selasa, 01 September 2026

Sound Horeg dalam Perspektif Fisika:

Ketika Bunyi Tidak Lagi Sekadar Hiburan

Sound Horeg dalam Perspektif Fisika: Ketika Bunyi Tidak Lagi Sekadar Hiburan

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena sound horeg semakin mudah dijumpai dalam berbagai kegiatan masyarakat, terutama dalam karnaval, perayaan desa, dan acara hiburan. Fenomena yang pada awalnya sangat identik dengan beberapa daerah di Jawa Timur tersebut kini semakin dikenal dan ditiru di berbagai daerah. Kehadiran perangkat pengeras suara berukuran besar dengan suara musik yang sangat keras bahkan dalam beberapa kegiatan seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemeriahan acara.

Bagi sebagian masyarakat, suara yang keras dianggap mampu menciptakan suasana meriah dan meningkatkan semangat peserta maupun penonton. Namun, jika dilihat dari sudut pandang fisika dan kesehatan, suara sebenarnya merupakan bentuk energi yang perlu diperhatikan. Ketika intensitasnya terlalu besar dan manusia terpapar dalam waktu yang lama, bunyi dapat berubah dari sesuatu yang menyenangkan menjadi sumber kebisingan yang berbahaya.

Bunyi adalah Gelombang yang Membawa Energi

Secara fisika, bunyi merupakan gelombang mekanik yang merambat melalui medium, seperti udara. Bunyi dihasilkan oleh benda yang bergetar. Ketika sebuah pengeras suara bekerja, membran atau speaker bergetar dan menyebabkan partikel-partikel udara di sekitarnya mengalami rapatan dan renggangan. Gangguan tersebut kemudian merambat sebagai gelombang bunyi hingga mencapai telinga manusia.

Salah satu besaran penting dalam membahas keras-lemahnya bunyi adalah intensitas bunyi. Intensitas menunjukkan banyaknya energi bunyi yang melewati setiap satuan luas dalam setiap satuan waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, tingkat bunyi biasanya dinyatakan dalam satuan desibel (dB).

Skala desibel bersifat logaritmik. Artinya, kenaikan beberapa desibel saja dapat menunjukkan perubahan energi bunyi yang cukup besar. Karena itu, suara 100 dB bukan sekadar “sedikit lebih keras” daripada suara 90 dB. Perbedaannya secara fisika jauh lebih besar.

Kerasnya bunyi yang diterima seseorang juga dipengaruhi oleh jarak dari sumber suara. Semakin dekat seseorang dengan sumber bunyi, semakin besar paparan yang diterimanya. Sebaliknya, semakin jauh dari sumber suara, tingkat bunyi yang diterima pada umumnya semakin kecil. Inilah alasan mengapa seseorang yang berdiri tepat di depan susunan pengeras suara akan mengalami paparan yang jauh lebih besar dibandingkan orang yang berada lebih jauh.

Mengapa Sound Horeg Dapat Berisiko?

Persoalan utama bukan semata-mata karena sebuah sound system memiliki banyak pengeras suara atau berukuran besar. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi tingkat bunyi yang dihasilkan, berapa lama seseorang terpapar, seberapa sering paparan terjadi, dan seberapa dekat posisi seseorang dengan sumber suara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa risiko gangguan pendengaran dipengaruhi oleh tingkat suara, lama paparan, dan frekuensi paparan. Sebagai gambaran, WHO menyebutkan bahwa paparan rata-rata 80 dB dapat berlangsung hingga sekitar 40 jam per minggu, sedangkan pada 90 dB waktu yang dianggap aman turun menjadi sekitar 4 jam per minggu. Pada 100 dB, waktunya menjadi jauh lebih singkat, sekitar 20 menit per minggu berdasarkan tabel panduan safe listening WHO.

Karena itu, berada di dekat pengeras suara dengan tingkat bunyi sangat tinggi selama pertunjukan berlangsung bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sepele. Bahkan paparan yang sangat keras dalam satu kesempatan saja dapat menyebabkan gangguan pada sel-sel sensorik di telinga bagian dalam. Paparan yang berulang dan berlangsung lama dapat menyebabkan noise-induced hearing loss (NIHL) atau gangguan pendengaran akibat kebisingan.

Dampaknya Tidak Hanya pada Telinga

Dampak kebisingan berlebihan tidak berhenti pada gangguan pendengaran. Seseorang yang terpapar suara sangat keras dapat mengalami telinga berdenging atau tinnitus dan pendengaran terasa berkurang atau seperti tertutup. Jika paparan terus berulang, kerusakan dapat menjadi permanen.

Kebisingan lingkungan yang berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan tidur, stres, gangguan konsentrasi, dan peningkatan risiko beberapa masalah kesehatan, termasuk hipertensi dan penyakit kardiovaskular.

Pada kegiatan yang melibatkan banyak orang, suara yang sangat keras juga dapat menimbulkan persoalan keselamatan. Kebisingan dapat membuat seseorang sulit mendengar komunikasi, peringatan, atau suara penting dari lingkungan sekitar. CDC/NIOSH juga mencatat bahwa kebisingan tinggi dapat mengurangi kemampuan seseorang menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Namun, penting untuk bersikap ilmiah terhadap berbagai pemberitaan mengenai korban jiwa yang dikaitkan dengan sound horeg. Tidak setiap kejadian yang berlangsung bersamaan dengan suara keras otomatis membuktikan bahwa suara tersebut merupakan satu-satunya penyebab kematian. Hubungan sebab-akibat harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan medis dan bukti yang memadai. Yang dapat ditegaskan secara ilmiah adalah bahwa paparan suara yang sangat keras memang memiliki risiko kesehatan yang nyata, terutama terhadap pendengaran dan sistem tubuh yang berkaitan dengan respons terhadap stres.

Hiburan yang Meriah, tetapi Tetap Harus Aman

Fenomena sound horeg menunjukkan bahwa perkembangan teknologi pengeras suara dapat mengubah cara masyarakat menikmati hiburan. Dari sudut pandang fisika, semakin besar kemampuan suatu sistem menghasilkan tekanan dan energi bunyi, semakin penting pula pengendalian tingkat paparan terhadap manusia.

WHO bahkan merekomendasikan standar untuk tempat dan kegiatan dengan musik yang diperkuat, termasuk pemantauan tingkat suara dan batas paparan. Salah satu rekomendasinya adalah tingkat suara rata-rata tidak melebihi 100 dB LAeq (A-weighted equivalent continuous sound level), 15 menit pada acara yang menerapkan standar safe listening.

Dengan demikian, persoalannya bukan apakah masyarakat boleh menikmati sound horeg atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana kesenangan, budaya, kreativitas, dan keselamatan dapat berjalan bersama. Kemajuan teknologi seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa keras suara yang mampu dihasilkan, tetapi juga dari seberapa baik kita mampu mengendalikan energi tersebut agar tidak membahayakan manusia.

Pada akhirnya, fisika mengajarkan sebuah prinsip sederhana: energi yang besar membutuhkan pengendalian yang besar pula. Suara adalah energi. Ketika digunakan secara tepat, suara dapat menjadi musik dan hiburan. Namun ketika intensitas, durasi, dan paparannya tidak dikendalikan, suara dapat berubah menjadi kebisingan yang berisiko bagi kesehatan. Karena itu, kemeriahan sebuah acara seharusnya tidak diukur dari seberapa keras suaranya, melainkan dari seberapa menyenangkan acara tersebut tanpa mengorbankan keselamatan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar