Oleh : Yaroh Mustain, S.Si (SMP N 1 Bangsri)
Jika Christian Hans
Oersted menemukan bahwa disekitar kawat berarus listrik dapat menimbulkan medan
magnet, maka percobaan M. Faraday membuktikan hal yang sebaliknya, yaitu medan
magnet dapat menimbulkan arus listrik. Penemuan M. Faraday, ilmuan jenius asal
Inggris ini sangat spektakuler karena dari sinilah kemudian dapat diciptakan
sumber tegangan listrik dalam sekala besar yang disebut dengan generator.
Percobaan M. Faraday dilakukan dengan alat yang sederhana yaitu sebuah magnet
batang, kumparan dan galvanometer.
Hasil percobaan Faraday menunjukkan bahwa arus listrik dapat terjadi jika ada perubahan medan magnet yang melingkupi kumparan. Perubahan medan magnet yang melingkupi kumparan disebut dengan fluks magnetik. Sedangkan Gejala timbulnya arus dan tegangan akibat perubahan fluks magnetik dikenal dengan induksi elektromagnetik.
Jika kita perhatikan percobaan M. Faraday ini
memberikan pelajaran penting bagi kita, yaitu adanya hasil harus didahului
dengan usaha.
Ketika magnet berada didalam kumparan tanpa ada
pergerakan faktanya tidak akan muncul tegangan dan arus listrik. Tegangan dan
arus listrik induksi merupakan hasil dan usaha untuk mendapatkannya adalah
dengan menciptakan perubahan fluks dalam kumparan. Kumparan atau jumlah lilitan
sangat identik dengan Hambatan (R) dan Hambatan (R) merupakan simbol dari
manusia. Hal ini sudah saya bahas dalam artikel sebelumnya yang berjudul Hukum
Kirchoff dalam Persepktif Islam. Secara matematik besarnya GGL Induksi
Elektromagnetik dituliskan dengan rumus :
E =-N (d0/dt)
Lihatlah N (jumlah kumparan) berbanding lurus dengan E (GGL), ini saya mengartikan bahwa untuk mendapatkan hasil yang besar maka diperlukan usaha yang besar yang tentu tantangan dan hambatannya juga semakin besar.
Saya akan menunjukkan
salah satu keajaiban kehidupan ini yang telah diciptakan Allah SWT dalam
konteks Hukum Faraday. Agar lebih mudah memahami saya akan buatkan analogi
kehidupan manusia dengan percobaan M. Faraday. Manusia saya ibaratkan dengan
kumparan karena kumparan identik dengan hambatan (R) sedangkan bumi saya
ibaratkan dengan magnet batang karena bumi dan magnet batang sama memiliki
medan magnet. Kutub utara bumi terdapat kutub selatan magnet bumi sedangkan
kutub selatan bumi terdapat kutub utara magnet bumi. Seluruh permukaan bumi
dilingkupi oleh garis gaya magnet bumi sehingga kita dapat menentukan arah
dengan menggunakan kompas. Saya tidak akan membahas apa manfaat dari medan
magnet bumi secara khusus, takut nanti artikelnya jadi terlalu panjang.
(Hehe... )
Dengan demikian seluruh manusia itu berada didalam medan sebuah magnet yang sangat besar yaitu magnet bumi. Persis dengan percobaan Faraday yang menempatkan kumparan di dalam medan magnet. Saya tidak tahu ini hanya suatu kebetulan ataukah suatu keajaiban.
Sesuai dengan
percobaan M. Faraday, bahwa syarat terjadinya induksi elektromagnetik (GGL
Induksi) maka harus ada perubahan fluks pada kumparan. Manusia adalah kumparan
hidup yang berada di dalam medan magnet. Jika ia mampu menciptakan perubahan
fluks pada dirinya maka akan menghasilkan GGL Induksi dalam dirinya pula. GGL
Induksi adalah tegangan dan arus induksi, sedangkan arus lsitrik dalam
pebahasan artikel sebelumnya saya identikkan dengan rizki. (Baca Hukum Kirchoff
dalam Persepektif Islam). Usaha untuk menciptakan perubahan fluks dalam diri
manusia tidak lain adalah ikhtiyar. Tidak heran jika Allah SWT memerintahkan
kepada kita agar selalu Usaha untuk menciptakan perubahan fluks dalam diri
manusia tidak lain adalah ikhtiyar. Tidak heran jika Allah SWT memerintahkan
kepada kita agar selalu melakukan ikhtiyar sebelum bertawakkal.
Dalil yang menujukkan perintah ikhtiyar telah ditunjukkan dibeberapa atay Alqur’an dan Hadits Nabi Sallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya adalah sebagai berikut.
.
....إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
....
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang
pada diri mereka ” . (QS-Ar-Ra'd : 11)
فَإِذَا
قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah di tunaikan shalat, maka
bertebarlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia allah dan ingatlah allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS-AlJumu’ah:10)
Ikhtiar secara bahasa artinya memilih. Secara istilah ikhtiar adalah usaha seseorang
untuk memperoleh apa yang di kehendakinya. Orang yang berikhtiar berarti dia
memilih suatu pekerjaan kemudian dia melakukan pekerjaannya dengan
sungguh-sungguh agar dapat berhasil dan sukses. Bagi seorang muslim melakukan
ikhtiyar berarti menjalankan perintah Allah. Karena rizki yang Allah sediakan
tidak diberikan secara cuma-cuma. Diantara hikmah disyariatkan ikhtiyar antara
lain menjadikan manusia lebih bisa merasakan nikmat rizki dari Allah setelah
diperoleh dengan susah payah. Menjadikan seseorang tidak berlaku hidup boros
mengingat untuk mendapatkannya perlu kerja keras serta menjadikan manusia lebih
terhormat, karena mendapatkan sesuatu hasil dari kerja keras dan keringatnya
bukan dari meminta-minta. Dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya:
“Sungguh jika sekiranya salah seorang
di antara kamu membawa talinya ( untuk mencari kayu bakar ) kemudian ia kembali
dengan membawa seikat kayu di
punggungnya lalu ia menjualnya sehingga Allah mencukupi kebutuhanya ( dengan
hasil itu ) adalah lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia baik
mereka memberi atau mereka menolak”. ( HR.Bukhari )
Arus
Bolak Balik dan Roda Kehidupan
Yang tidak kalah
menariknya adalah GGL Induksi baik tegangan maupun arus yang dihasilkan dari
percobaan M. Faraday secara alamiah bersifat fluktuatif membentuk gelombang
sinusiodal. Jika digambarkan mirip dengan gelombang transversal.
Ciri khas gelombang ini adalah munculnya angka negatif dan positif melewati titik nol secara bergantian. Listrik yang dari PLN memiliki frekuensi 50 Hz, artinya membentuk pola 50 gelombang dalam setiap detiknya. Jadi lampu dirumah kita itu sebenarnya berkedip tetapi karena frekuensinya cukup tinggi mata kita tidak dapat mendeteksinya. Munculnya puncak (posisi teratas) dan dasar gelombang (posisi terendah) mengingatkan saya pada roda kehidupan. Kehidupan seseorang bisa berada di atas atau bahkan berada pada posisi terendah. Ketika kita menyadari ini maka seharusnya kkehidupan itu bisa diplanning. Bagaimana sikap kita ketika sedang berada di atas untuk mempersiapkan diri ketika nantinya berada di bawah. Jangan sampai terlalu terbuai ketika sedang dalam kondisi puncak sehingga berfoya-foya larut dalam kondisi kesuksesan. Ketika seseorang sedang berada dipuncak itu artinya ia berkewajiban untuk memperhatikan orang-orang disekelilingnya yang sedang berada di dasar. Ketika roda kehidupan ini berputar tidak akan menimbulkan chaos jika masing-masing orang mengambil perannya sesuai dengan posisinya masing-masing. Sehingga perputaran roda kehidupan ini senantiasa harmonik sesuai dengan gelombang sinusiodal.
Sebagai penutup saya
simpulkan pelajaran yang dapat kita petik dari Hukum Faraday; 1) Ikhtiyar
secara maksimal merupakan kewajiban manusia karena sesuatu tidak akan datang
secara cuma-cuma; 2) Dengan berikhtiyar menjadikan manusia lebih bermartabat
dan terhormat dimata manusia dan Allah SWT; dan 3) Roda kehidupan ini terus
berputar, berperanlah sesuai dengan posisinya masing-masing agar hidup ini
terus harmoni.
Wallahu a’lamu bishshowab....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar