Ketika Bunyi Tidak Lagi Sekadar Hiburan
Sound Horeg dalam Perspektif Fisika: Ketika Bunyi Tidak Lagi
Sekadar Hiburan
Dalam beberapa tahun
terakhir, fenomena sound horeg semakin mudah dijumpai dalam berbagai
kegiatan masyarakat, terutama dalam karnaval, perayaan desa, dan acara hiburan.
Fenomena yang pada awalnya sangat identik dengan beberapa daerah di Jawa Timur
tersebut kini semakin dikenal dan ditiru di berbagai daerah. Kehadiran
perangkat pengeras suara berukuran besar dengan suara musik yang sangat keras
bahkan dalam beberapa kegiatan seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari kemeriahan acara.
Bagi sebagian masyarakat,
suara yang keras dianggap mampu menciptakan suasana meriah dan meningkatkan
semangat peserta maupun penonton. Namun, jika dilihat dari sudut pandang fisika
dan kesehatan, suara sebenarnya merupakan bentuk energi yang perlu
diperhatikan. Ketika intensitasnya terlalu besar dan manusia terpapar dalam
waktu yang lama, bunyi dapat berubah dari sesuatu yang menyenangkan menjadi
sumber kebisingan yang berbahaya.
Bunyi adalah Gelombang yang Membawa Energi
Secara fisika, bunyi
merupakan gelombang mekanik yang merambat melalui medium, seperti udara. Bunyi
dihasilkan oleh benda yang bergetar. Ketika sebuah pengeras suara bekerja,
membran atau speaker bergetar dan menyebabkan partikel-partikel udara di
sekitarnya mengalami rapatan dan renggangan. Gangguan tersebut kemudian
merambat sebagai gelombang bunyi hingga mencapai telinga manusia.
Salah satu besaran penting
dalam membahas keras-lemahnya bunyi adalah intensitas bunyi. Intensitas
menunjukkan banyaknya energi bunyi yang melewati setiap satuan luas dalam
setiap satuan waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, tingkat bunyi biasanya
dinyatakan dalam satuan desibel (dB).
Skala desibel bersifat
logaritmik. Artinya, kenaikan beberapa desibel saja dapat menunjukkan perubahan
energi bunyi yang cukup besar. Karena itu, suara 100 dB bukan sekadar “sedikit
lebih keras” daripada suara 90 dB. Perbedaannya secara fisika jauh lebih besar.
Kerasnya bunyi yang diterima
seseorang juga dipengaruhi oleh jarak dari sumber suara. Semakin dekat
seseorang dengan sumber bunyi, semakin besar paparan yang diterimanya.
Sebaliknya, semakin jauh dari sumber suara, tingkat bunyi yang diterima pada
umumnya semakin kecil. Inilah alasan mengapa seseorang yang berdiri tepat di
depan susunan pengeras suara akan mengalami paparan yang jauh lebih besar
dibandingkan orang yang berada lebih jauh.
Mengapa
Sound Horeg Dapat Berisiko?
Persoalan utama bukan semata-mata karena sebuah sound
system memiliki banyak pengeras suara atau berukuran besar. Yang perlu
diperhatikan adalah seberapa tinggi tingkat bunyi yang dihasilkan, berapa
lama seseorang terpapar, seberapa sering paparan terjadi, dan seberapa dekat
posisi seseorang dengan sumber suara.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan
bahwa risiko gangguan pendengaran dipengaruhi oleh tingkat suara, lama paparan,
dan frekuensi paparan. Sebagai gambaran, WHO menyebutkan bahwa paparan
rata-rata 80 dB dapat berlangsung hingga sekitar 40 jam per minggu, sedangkan
pada 90 dB waktu yang dianggap aman turun menjadi sekitar 4 jam per minggu.
Pada 100 dB, waktunya menjadi jauh lebih singkat, sekitar 20 menit per minggu
berdasarkan tabel panduan safe listening WHO.
Karena itu, berada di dekat pengeras suara
dengan tingkat bunyi sangat tinggi selama pertunjukan berlangsung bukanlah
sesuatu yang dapat dianggap sepele. Bahkan paparan yang sangat keras dalam satu
kesempatan saja dapat menyebabkan gangguan pada sel-sel sensorik di telinga
bagian dalam. Paparan yang berulang dan berlangsung lama dapat menyebabkan noise-induced
hearing loss (NIHL) atau gangguan pendengaran akibat kebisingan.
Dampaknya Tidak
Hanya pada Telinga
Dampak kebisingan berlebihan tidak berhenti pada
gangguan pendengaran. Seseorang yang terpapar suara sangat keras dapat
mengalami telinga berdenging atau tinnitus dan pendengaran terasa
berkurang atau seperti tertutup. Jika paparan terus berulang, kerusakan dapat
menjadi permanen.
Kebisingan lingkungan yang berlebihan juga
dikaitkan dengan gangguan tidur, stres, gangguan konsentrasi, dan peningkatan
risiko beberapa masalah kesehatan, termasuk hipertensi dan penyakit
kardiovaskular.
Pada kegiatan yang melibatkan banyak orang,
suara yang sangat keras juga dapat menimbulkan persoalan keselamatan.
Kebisingan dapat membuat seseorang sulit mendengar komunikasi, peringatan, atau
suara penting dari lingkungan sekitar. CDC/NIOSH juga mencatat bahwa kebisingan
tinggi dapat mengurangi kemampuan seseorang menyadari apa yang sedang terjadi
di sekitarnya.
Namun, penting untuk bersikap ilmiah terhadap
berbagai pemberitaan mengenai korban jiwa yang dikaitkan dengan sound horeg.
Tidak setiap kejadian yang berlangsung bersamaan dengan suara keras otomatis
membuktikan bahwa suara tersebut merupakan satu-satunya penyebab kematian.
Hubungan sebab-akibat harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan medis dan bukti
yang memadai. Yang dapat ditegaskan secara ilmiah adalah bahwa paparan suara
yang sangat keras memang memiliki risiko kesehatan yang nyata, terutama
terhadap pendengaran dan sistem tubuh yang berkaitan dengan respons terhadap
stres.
Hiburan yang Meriah, tetapi Tetap Harus Aman
Fenomena sound horeg
menunjukkan bahwa perkembangan teknologi pengeras suara dapat mengubah cara
masyarakat menikmati hiburan. Dari sudut pandang fisika, semakin besar
kemampuan suatu sistem menghasilkan tekanan dan energi bunyi, semakin penting
pula pengendalian tingkat paparan terhadap manusia.
WHO bahkan merekomendasikan standar untuk tempat dan kegiatan dengan musik yang diperkuat, termasuk pemantauan tingkat suara dan batas paparan. Salah satu rekomendasinya adalah tingkat suara rata-rata tidak melebihi 100 dB LAeq (A-weighted equivalent continuous sound level), 15 menit pada acara yang menerapkan standar safe listening.
Dengan demikian, persoalannya
bukan apakah masyarakat boleh menikmati sound horeg atau tidak.
Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana kesenangan, budaya,
kreativitas, dan keselamatan dapat berjalan bersama. Kemajuan teknologi seharusnya
tidak hanya diukur dari seberapa keras suara yang mampu dihasilkan, tetapi juga
dari seberapa baik kita mampu mengendalikan energi tersebut agar tidak
membahayakan manusia.
Pada akhirnya, fisika mengajarkan sebuah prinsip sederhana: energi yang besar membutuhkan pengendalian yang besar pula. Suara adalah energi. Ketika digunakan secara tepat, suara dapat menjadi musik dan hiburan. Namun ketika intensitas, durasi, dan paparannya tidak dikendalikan, suara dapat berubah menjadi kebisingan yang berisiko bagi kesehatan. Karena itu, kemeriahan sebuah acara seharusnya tidak diukur dari seberapa keras suaranya, melainkan dari seberapa menyenangkan acara tersebut tanpa mengorbankan keselamatan manusia.